Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Play Smart Not Hard, 7 Kebiasaan Trading yang Kekinian!

Play Smart Not Hard, 7 Kebiasaan Trading yang Kekinian!

Menjadi seorang trader sukses bukanlah hal yang dapat dicapai dalam waktu instan. Kamu akan membutuhkan banyak jam terbang, pengetahuan, dan keterampilan untuk bisa mencapai posisi tersebut. Tak lupa, kamu juga harus rutin menerapkan kebiasaan trading yang cerdas.

Tenang saja, setiap trader sukses juga mempunyai kali pertama mereka melakukan sesuatu. Karena itu, kamu tak perlu ragu untuk mulai menerapkan beberapa kebiasaan baik yang akan berpengaruh terhadap kesuksesanmu sebagai seorang trader. Seperti kata pepatah, “we make habits and then our habits make us.

1. Bersabar

Sabar adalah kunci utama dari setiap trading maupun investasi yang dilakukan. Hal ini juga pernah dikatakan oleh Warren Buffett, investor ulung sekaligus ikon selama lebih dari tujuh dekade terakhir, “stock market is a device for transferring money from the impatient to the patient.” Percaya atau tidak, Buffett bahkan telah mempelajari kunci penting ini ketika dirinya masih berusia sebelas tahun — saat kali pertama dirinya membeli saham.

Dalam trading, mereka yang bersabar menunggu kesempatan datang menghampiri mendapat keuntungan jauh lebih besar, sedangkan mereka yang terus-menerus mengejar pasar justru akan terus merugi. Inilah yang menjadi perbedaan signifikan antara trader ulung dan trader amatir.

Trader ulung dan profesional tidak bergabung ke dalam trading hanya untuk bersenang-senang dan memacu adrenalin semata. Tujuan mereka adalah mencari keuntungan sehingga mereka lebih memahami untuk tidak terburu-buru begitu stock dibuka seperti yang dilakukan para amatir. Seperti seorang sniper, trader ulung akan menunggu dengan penuh strategi untuk membidik sasaran yang benar-benar tepat.

2. Fokus Terhadap Hal-Hal yang Dapat Dikendalikan

Kebiasaan ini sesuai yang disampaikan oleh Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul “7 Habits of Highly Effective People”. Dalam bukunya yang menjadi panutan banyak orang di seluruh dunia itu, Covey merumuskan dua hal utama: circle of concern dan circle of control.

Circle of concern adalah hal-hal yang kita peduli atau khawatirkan, sedangkan circle of control adalah hal-hal yang dapat kita kendalikan. Seperti contoh, hal yang termasuk circle of circle—hal yang kamu khawatirkan adalah bahwa hari ini akan hujan. Adapun hal yang dapat kamu lakukan saat hal itu terjadi adalah dengan bersedia membawa payung—inilah tindakan yang termasuk circle of control.

Trader amatir lebih fokus dengan kekhawatirannya terhadap outcome yang akan dihasilkan. Sayangnya, hal tersebut ditentukan oleh banyak faktor yang tidak bisa semuanya dikendalikan dari diri sendiri. Sementara itu, trader profesional akan lebih fokus pada hal-hal yang ada di dalam kontrolnya untuk meminimalkan risiko, seperti kapan harus melakukan trading dan tidak melakukan trading, berapa jumlah capital-nya, dan lain-lain.

3. Merencanakan Exit

Selain tak terburu-buru melakukan trading, trader profesional juga bahkan sudah merencanakan exit yang akan dilakukan sebelum memulainya. Kebiasaan ini yang justru masih banyak disepelekan atau bahkan tidak dipahami oleh trader amatir. Mereka terlalu bersemangat memasuki arena, tetapi tidak menyiapkan rencana untuk keluar dari sana.

Trader amatir tidak membekali diri dengan cukup pengetahuan dan keterampilan tentang kapan dan bagaimana harus mengakhiri trading. Begitu mengalami kerugian, mereka justru makin terjebak dan menjadi emosional. Mereka hanya berharap bahwa keadaan akan membaik, tetapi tentu saja, hal ini tidak akan benar-benar terjadi.

Trading apa pun memiliki potensi mengalami kerugian. Namun, kamu tidak sebaiknya membiarkan hal tersebut terjadi terus-menerus dan bahkan memengaruhi lebih banyak trading lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menyiapkan strategi menghadapi kemungkinan terburuk tersebut.

4. Menganalisis Histori Trading dengan Bijak

Socrates pernah berkata, “an unexamined life is not worth living.” Dalam konteks trading, hal ini sangatlah tepat—an unexamined trade is not worth taking. 

Trader amatir kerap enggan belajar dari kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Mereka cenderung tergesa-gesa untuk move on dan kembali melakukan trading. Menengok catatan trading yang dilakukan dirasa hanya akan membuka lama. Sayangnya, kebiasaan ini justru berpotensi membuat mereka mengulangi kesalahan yang sama.

Sebaliknya, trader profesional justru tidak terburu-buru untuk kembali melakukan trading. Mereka mengambil waktu dengan santai dan tak keberatan untuk berlama-lama menengok kembali histori yang dilakukan. Pasalnya, dari situlah mereka dapat menemukan mana hal-hal yang sebaiknya dihindari dan menemukan cara-cara lain yang lebih bijak dan efektif untuk mencapai tujuan.

5. Mengikuti Sistem

Trading sangatlah dinamis di seluruh aspeknya dan penuh dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai trading. Pun, kamu tidak sebaiknya termakan rayuan untuk memulai saja dulu tanpa ada persiapan yang cukup untuk melakukannya.

Sayangnya, amatir punya kebiasaan trading yang salah, yakni mengandalkan emosi. Mereka akan membeli dan menjual sesuai feeling alih-alih membaca kondisi pasar dan perhitungan yang rasional. Padahal, dalam trading, tak ada ruang untuk emosi. Semua tindakan harus berdasarkan perhitungan matang.

Trader andal melakukan trading dengan membangun sistem. Mereka menggunakan struktur, aturan, dan proses untuk setiap tindakan atau keputusan yang dilakukan — kapan mereka akan melakukan trading, kapan mereka tidak sebaiknya melakukan trading, bagaimana memilih emiten, mengelola saham yang dimiliki, menganalisis portofolio, dan lain-lain.

6. Mengambil Keputusan dengan Kepala Jernih

Satu hal penting yang harus kamu pahami adalah bahwa outcome dari setiap trading tidak dipengaruhi oleh trading sebelumnya. Hal ini sama seperti ketika kamu harus memilih saat melempar koin uang untuk kesekian kali: mana yang akan muncul, bagian depan atau belakang? 

Peluangnya tetap sama, yakni 50:50, sekalipun jika hasil pada beberapa percobaan sebelumnya adalah sebanyak 80% muncul bagian depan. Dalam kata lain, setiap trading mempunyai permulaan baru yang tidak berhubungan dengan trading sebelumnya.

Namun, pengetahuan ini tidak benar-benar dipahami oleh para amatir. Mereka masih akan membawa sisa emosi dari trading sebelumnya saat akan memasuki episode baru. Jika mereka mengalami keuntungan terus-menerus sebelumnya, mereka akan merasa terlalu percaya diri. Pun sebaliknya, jika mengalami kerugian beruntung, psikologis mereka juga akan terpengaruh dan bahkan membuat mereka melakukan kesalahan lagi dan lagi.

7. Beradaptasi dan Belajar Terus Menerus

Satu kutipan dari Howard Gardner yang cukup relevan dengan kondisi trading adalah, “If you think education is expensive, try estimating the cost of ignorance.” Tentu saja, ketidaktahuan dalam trading akan sangat lebih terasa hasilnya sebab kekayaanmu yang menjadi ‘taruhannya’.

Trader amatir merasa nyaman dengan cukup mencoba satu metode atau strategi saja, terutama jika mereka cukup beruntung saat menjajal teknik tersebut. Begitu trading selesai dan menghasilkan untung, mereka pun tak akan repot-repot mempelajari cara lainnya.

Sementara itu, trader sukses memahami bahwa dunia trading selalu berubah-ubah. Maka dari itu, satu strategi saja tidak akan memberi bekal yang cukup untuk senantiasa memberi keuntungan yang diharapkan. Mereka pun tak ragu untuk mempelajari hal-hal baru dan bahkan menginvestasikan sebagian dana mereka demi bekal mencapai target yang lebih baik.Itulah tujuh kebiasaan trading yang bisa kamu lakukan untuk menjadi trader sukses. Apakah ada yang sudah menjadi rutinitasmu?

Leave a comment

© 2023 Purobo. All Rights Reserved.